Prologue : Anak Baik
“aku bisa memprebaikinya kan?”
-kim seokjin-
Anak yang baik meriset trauma seokjin saat masih kecil, dan bagaimana itu
membentuknya menjadi anak yang sempurna, pendiam, dan kekanakan.
SEOKJIN, 10
OKTOBER 2010
(NOVEL HYYH 2020)
“ayo pergi, kita harus keluar
dari sini”
Aku meraih tangan teman ku dan berlari ke pintu belakang
kelas kami. Ketika aku melihat ke belakang sambil berlari, aku melihat
orang-orang itu keluar dari ruang kelas kami dan mengejar kami.
“berhenti! Berhenti
disana!” suara-suara mereka seperti persis berada
dibelakang kami.
Kami panik dan berfikir harus kemana kami pergi ketika
kami menuruni tangga. Tujuan pertama yang muncul di benakku adalah bukit
dibelakang sekolah kami. Kami hanya perlu menyebrangi taman bermain dan pergi
ke gerbang sekolah lalu kami berjalan ke dasar bukit. Meskipun tidak tinggi,
tapi jalannya berbatu dan kasar.
Setelah berlari melewati gerbang dan memutari tikungan
dengan kesecepatan penuh, kami mengabaikan jalan setapak dan langsung melompat
ke semak-semak. Kami menutupi tubuh kami dan terus berlari. Kami berlari sudah
cukup lama, akhirnya kami berhenti ketika suara langkah kaki dibelakang kami
menghilang. Kami berbaring di tanah yang ditutupi lapisan daun kering, keringat
menetes dari wajah kami.
“mereka tidak akan
bisa mengikuti kita sampai disini kan?”
Temankku mengangguk, terengah-engah. Kami mengangkat
sedikit kaos kami untuk menyeka keringat diwajah kami. Pergelangan tangan nya
hitam kebiruan memar. Leher kaosnya robek.
“ayah belum pulang
sudah lebih dari seminggu. Ibu terus menangis. Pembantu dan supir tidak datang
lagi. Tante bilang kalau perusahaan ayahku ditutup. Orang orang itu datang ke
rumah kami tadi malam. Mereka terus menekan bel dan meneriaki ayah. Kami
tinggal didalam dengan semua lampu dimatikan, dan mereka terus menyumpahi kami
didepan pintu. Kami tidak bisa tidur sama sekali.” Temanku
menangis sepanjang kisahnya.
Aku tidak bisa berfikir apa yang harus
dikatakan(bingung?). Yang bisa kulakukan hanyalah memberitahunya untuk tidak
menangis.
MENIT SEBELUMNYA
Tidak lama setelah kelas dimulai tiba-tiba pintu depan
terbuka ada empat atau lima pria masuk. Mereka urakan dan gegabah.
“yang mana dari
kalian putra dari Mr.choi? ayo keluar bersama kami!”
Tertegun, guru kami meminta mereka untuk segera pergi,
tapi mereka mengabaikannya.
“kami tahu kau
disini. ayo keluar sekarang!” beberapa anak memandangi
temanku yang duduk disebelahku dan mulai berbisik. Para pria itu memperhatikan
dan datang ke arah kami.
“tidak bisakah
kalian lihat kami sedang belajar? Tolong pergi”
Guru kami mencoba menghalangi mereka tapi salah satu pria
itu mendorongnya dengan keras ke papan tulis. Dia jatuh ke lantai. Pria yang
mendorong guru kami berjalan ke arah kami dengan mengancam. Semua siswa menoleh
kearah kami. Pria itu menyambar lengan temanku.
“kami akan
membawamu ke ayahmu dan akan mendapatkan uang darinya, dia tidak ingin
kehilangan putranyakan?” para pria itu mengancam dan
suasana jadi menakutkan.
Aku melihat teman ku. Dia gemetaran dengan kepalanya yang
tertunduk. Dia adalah teman ku. Aku meraih tangannya lewat bawah meja. Dia
mendongak dan aku menarik tangannya.
“ayo kita lari”
SETELAH MEREKA BERLARI
Langit semakin gelap. Sepertinya sudah tidak ada yang
mengejar kami. Kami masuk ke jalan setapak, melewati pepohonan dan semak-semak.
Banyak peralatan bermain yang kosong mucul dihadapan kami. Aku bersandar dan
temanku duduk dibangku.
“aku khawatir kau
akan dapat masalah karena ku”. Temanku tampak gelisah,
lalu aku mengatakan padanya bahwa aku akan baik-baik saja.
Yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana cara mengeluarkan
temanku dari sana. Aku harus membuatnya jauh dari pria-pria itu. Tapi saat kami
melarikan diri, aku sadar bahwa kami tidak punya tempat utuk
pergi.(bersembunyi/kabur)
“ayo pergi
ketempatku”. Aku
pastikan sudah sekitar jam 9 malam saat ini, beberapa waktu telah berlalu sejak
matahari terbenam. Aku kelaparan. Dia juga pasti begitu.
“bukankah orang tua
mu ada dirumah? Apa kamu tidak akan mendapat masalah jika membawa ku?”.
“kita bisa menyelinap
masuk. Jika kita mendapat masalah, maka kita mendapat masalah bersama” (alias gamasalah yg penting kena maslahnya bareng2)
Rumahku tidak jauh dari kaki bukit. Rumahku mulai
terlihat dari kejauhan. “kamu nanti masuk
lewat belakang ketika aku buka gerbang dan sembunyilah dekat pohon. Aku akan
membukakan jendelanya nanti”.
KETIKA SEOKJIN
MASUK RUMAH, TEMANNYA BERSEMBUNYI DI LUAR
Ibu sedang duduk di sofa ruang tamu. “kemana saja kau?” tadi gurumu menelpon”
Alih-alih menjawab pertanyannya, aku mengatakan padanya
bahwa aku menyesal(perbuatan nakal karna dia bolos dari jam pelajaran).
Biasanya itu cara tercepat untuk mengakhiri percakapan. Kata ibu, ayah akan
pulang sebentar lagi dan langsung pergi ke kamarnya.
Kamarku berada di sebrang kamar mereka dengan ruang tamu
di tengah. Aku segera masuk ke kamar dan membuka jendela.
MENIT SETELAHNYA TEMAN SEOKJIN SUDAH MASUK KE KAMARNYA
Kami mendengar gerbang depan terbuka saat kami sedang
bermain game komputer dan setelah makan cemilan roti dan susu. Temanku
menatapku dengan mata ketakutan. “tidak
apa-apa. Ayah tidak pernah masuk ke kamarku.”
Tidak lama, pintu kamarku tiba-tiba terbuka sebelum aku
selesai berbicara. Kami melompat dari tempat kami duduk dengan ketakutan. “apa kamu putra Mr.choi?” ayah
melanjutkan tanpa menunggu jawaban dari kami. “ayo keluar. Seseorang menunggumu disini untuk membawamu.”
Ada seseorang berdiri di dekat pintu. Aku pikir dia Mr.
Choi pada awalnya tapi dengan cepat aku sadar bahwa itu bukan dia. Dia adalah
salah satu dari pria-pria dikelas pagi tadi. Aku menatap ayah. Dia tampak
lelah, dengan raut wajah dan kelopak matanya yang bergetar. Lebih baik tidak
mengganggunya disaat dia dalam suasana hati seperti ini.
Saat aku mencoba membaca wajahnya, pria itu masuk ke
kamarku dan meraih bahu teman ku. Aku berdiri menghalang didepan temanku. “tidak. Ayah, jangan biarkan orang ini
membawanya. Dia salah satu dari orang jahat”.
Dia terus menatapku dan tidak bergerak. “tolong bantu dia, ayah. Dia temanku”. Pria
itu mencoba menarik temanku keluar. Aku berpegangan pada lengan temanku, dan
ayah memegang bahu ku. Dia menggenggamnya dan menariknya dengan keras. Aku
melepas tangan temanku. Dia diseret keluar dari pintu. Aku mengamuk untuk
membebaskan diri, tapi ayah menguatkan cengkramannya.
“sakitt!”
Aku berteriak, tapi dia tidak melepaskannya. Dia
menggenggam bahuku lebih erat, air mata mengalir diwajah ku. Aku menatap ayah.
Dia seperti dinding abu-abu yang besar. Wajahnya tanpa ekspresi, bahkan tatapan
kelelahannya tadi kini hilang. Dia perlahan membuka mulutnya dengan mata
tertuju padaku.
“seokjin, jadilah
anak yang baik”
Dia masih memiliki tatapan kosong. Tapi aku tahu apa yang
harus aku lakukan, untuk menghentikan rasa sakit ini.
“seokjin”
Aku menoleh melihat tangisan temanku. Dia lolos dari cengkraman
pria itu dan berlari ke pintu kamarku. Dia menangis. Ayah dengan satu tangannya
masih mencengkram pundakku, dan tangan satunya lagi untuk membanting pintunya
tertutup. Lalu aku minta maaf padanya.
“aku minta maaf,
ayah. Aku tidak akan membuat masalah lagi.”
Hari berikutnya, kursi disebelah ku kosong. Guruku bilang
dia pindah sekolah lain.
Ikuti kami di Twitter dan Instagram agar lebih mendalami note untuk BTS
고맙습니다,, 보라해요💜💜💜😍
ini akun instagram teori
👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻
https://instagram.com/bighiteories?igshid=1ds96jwns4nlu
Ini akun twt teori
👇🏻👇🏻👇🏻
Check out 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒕𝒂𝒏 𝑼𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆🌙 (@BigHiTheories)
https://twitter.com/BigHiTheories?s=09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar