Kamis, 06 Agustus 2020

SEOKJIN, 10 OKTOBER 2010

Prologue : Anak Baik

“aku bisa memprebaikinya kan?”

-kim seokjin-

Anak yang baik meriset trauma seokjin saat masih kecil, dan bagaimana itu membentuknya menjadi anak yang sempurna, pendiam, dan kekanakan.

 

 

SEOKJIN, 10 OKTOBER 2010

 

(NOVEL HYYH 2020)

“ayo pergi, kita harus keluar dari sini”


Aku meraih tangan teman ku dan berlari ke pintu belakang kelas kami. Ketika aku melihat ke belakang sambil berlari, aku melihat orang-orang itu keluar dari ruang kelas kami dan mengejar kami.

 

“berhenti! Berhenti disana!” suara-suara mereka seperti persis berada dibelakang kami.

 

Kami panik dan berfikir harus kemana kami pergi ketika kami menuruni tangga. Tujuan pertama yang muncul di benakku adalah bukit dibelakang sekolah kami. Kami hanya perlu menyebrangi taman bermain dan pergi ke gerbang sekolah lalu kami berjalan ke dasar bukit. Meskipun tidak tinggi, tapi jalannya berbatu dan kasar.

 

Setelah berlari melewati gerbang dan memutari tikungan dengan kesecepatan penuh, kami mengabaikan jalan setapak dan langsung melompat ke semak-semak. Kami menutupi tubuh kami dan terus berlari. Kami berlari sudah cukup lama, akhirnya kami berhenti ketika suara langkah kaki dibelakang kami menghilang. Kami berbaring di tanah yang ditutupi lapisan daun kering, keringat menetes dari wajah kami.

 

“mereka tidak akan bisa mengikuti kita sampai disini kan?”

 

Temankku mengangguk, terengah-engah. Kami mengangkat sedikit kaos kami untuk menyeka keringat diwajah kami. Pergelangan tangan nya hitam kebiruan memar. Leher kaosnya robek.

 

“ayah belum pulang sudah lebih dari seminggu. Ibu terus menangis. Pembantu dan supir tidak datang lagi. Tante bilang kalau perusahaan ayahku ditutup. Orang orang itu datang ke rumah kami tadi malam. Mereka terus menekan bel dan meneriaki ayah. Kami tinggal didalam dengan semua lampu dimatikan, dan mereka terus menyumpahi kami didepan pintu. Kami tidak bisa tidur sama sekali.” Temanku menangis sepanjang kisahnya.

 

Aku tidak bisa berfikir apa yang harus dikatakan(bingung?). Yang bisa kulakukan hanyalah memberitahunya untuk tidak menangis.

 

MENIT SEBELUMNYA

 

Tidak lama setelah kelas dimulai tiba-tiba pintu depan terbuka ada empat atau lima pria masuk. Mereka urakan dan gegabah.

 

“yang mana dari kalian putra dari Mr.choi? ayo keluar bersama kami!”

Tertegun, guru kami meminta mereka untuk segera pergi, tapi mereka mengabaikannya.

 

“kami tahu kau disini. ayo keluar sekarang!” beberapa anak memandangi temanku yang duduk disebelahku dan mulai berbisik. Para pria itu memperhatikan dan datang ke arah kami.

 

“tidak bisakah kalian lihat kami sedang belajar? Tolong pergi”

 

Guru kami mencoba menghalangi mereka tapi salah satu pria itu mendorongnya dengan keras ke papan tulis. Dia jatuh ke lantai. Pria yang mendorong guru kami berjalan ke arah kami dengan mengancam. Semua siswa menoleh kearah kami. Pria itu menyambar lengan temanku.

 

“kami akan membawamu ke ayahmu dan akan mendapatkan uang darinya, dia tidak ingin kehilangan putranyakan?” para pria itu mengancam dan suasana jadi menakutkan.

 

Aku melihat teman ku. Dia gemetaran dengan kepalanya yang tertunduk. Dia adalah teman ku. Aku meraih tangannya lewat bawah meja. Dia mendongak dan aku menarik tangannya.

 

“ayo kita lari”

 

SETELAH MEREKA BERLARI

 

Langit semakin gelap. Sepertinya sudah tidak ada yang mengejar kami. Kami masuk ke jalan setapak, melewati pepohonan dan semak-semak. Banyak peralatan bermain yang kosong mucul dihadapan kami. Aku bersandar dan temanku duduk dibangku.

 

“aku khawatir kau akan dapat masalah karena ku”. Temanku tampak gelisah, lalu aku mengatakan padanya bahwa aku akan baik-baik saja.

 

Yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana cara mengeluarkan temanku dari sana. Aku harus membuatnya jauh dari pria-pria itu. Tapi saat kami melarikan diri, aku sadar bahwa kami tidak punya tempat utuk pergi.(bersembunyi/kabur)

 

“ayo pergi ketempatku”. Aku pastikan sudah sekitar jam 9 malam saat ini, beberapa waktu telah berlalu sejak matahari terbenam. Aku kelaparan. Dia juga pasti begitu.

 

“bukankah orang tua mu ada dirumah? Apa kamu tidak akan mendapat masalah jika membawa ku?”.

 

“kita bisa menyelinap masuk. Jika kita mendapat masalah, maka kita mendapat masalah bersama” (alias gamasalah yg penting kena maslahnya bareng2)

Rumahku tidak jauh dari kaki bukit. Rumahku mulai terlihat dari kejauhan. “kamu nanti masuk lewat belakang ketika aku buka gerbang dan sembunyilah dekat pohon. Aku akan membukakan jendelanya nanti”.

 

KETIKA SEOKJIN MASUK RUMAH, TEMANNYA BERSEMBUNYI DI LUAR

 

Ibu sedang duduk di sofa ruang tamu. “kemana saja kau?” tadi gurumu menelpon”

Alih-alih menjawab pertanyannya, aku mengatakan padanya bahwa aku menyesal(perbuatan nakal karna dia bolos dari jam pelajaran). Biasanya itu cara tercepat untuk mengakhiri percakapan. Kata ibu, ayah akan pulang sebentar lagi dan langsung pergi ke kamarnya.

 

Kamarku berada di sebrang kamar mereka dengan ruang tamu di tengah. Aku segera masuk ke kamar dan membuka jendela.

 

MENIT SETELAHNYA TEMAN SEOKJIN SUDAH MASUK KE KAMARNYA

 

Kami mendengar gerbang depan terbuka saat kami sedang bermain game komputer dan setelah makan cemilan roti dan susu. Temanku menatapku dengan mata ketakutan. “tidak apa-apa. Ayah tidak pernah masuk ke kamarku.”

 

Tidak lama, pintu kamarku tiba-tiba terbuka sebelum aku selesai berbicara. Kami melompat dari tempat kami duduk dengan ketakutan. “apa kamu putra Mr.choi?” ayah melanjutkan tanpa menunggu jawaban dari kami. “ayo keluar. Seseorang menunggumu disini untuk membawamu.”

 

Ada seseorang berdiri di dekat pintu. Aku pikir dia Mr. Choi pada awalnya tapi dengan cepat aku sadar bahwa itu bukan dia. Dia adalah salah satu dari pria-pria dikelas pagi tadi. Aku menatap ayah. Dia tampak lelah, dengan raut wajah dan kelopak matanya yang bergetar. Lebih baik tidak mengganggunya disaat dia dalam suasana hati seperti ini.

 

Saat aku mencoba membaca wajahnya, pria itu masuk ke kamarku dan meraih bahu teman ku. Aku berdiri menghalang didepan temanku. “tidak. Ayah, jangan biarkan orang ini membawanya. Dia salah satu dari orang jahat”.

 

Dia terus menatapku dan tidak bergerak. “tolong bantu dia, ayah. Dia temanku”. Pria itu mencoba menarik temanku keluar. Aku berpegangan pada lengan temanku, dan ayah memegang bahu ku. Dia menggenggamnya dan menariknya dengan keras. Aku melepas tangan temanku. Dia diseret keluar dari pintu. Aku mengamuk untuk membebaskan diri, tapi ayah menguatkan cengkramannya.

 

“sakitt!”

 

Aku berteriak, tapi dia tidak melepaskannya. Dia menggenggam bahuku lebih erat, air mata mengalir diwajah ku. Aku menatap ayah. Dia seperti dinding abu-abu yang besar. Wajahnya tanpa ekspresi, bahkan tatapan kelelahannya tadi kini hilang. Dia perlahan membuka mulutnya dengan mata tertuju padaku.

 

“seokjin, jadilah anak yang baik”

 

Dia masih memiliki tatapan kosong. Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan, untuk menghentikan rasa sakit ini.

 

“seokjin”

 

Aku menoleh melihat tangisan temanku. Dia lolos dari cengkraman pria itu dan berlari ke pintu kamarku. Dia menangis. Ayah dengan satu tangannya masih mencengkram pundakku, dan tangan satunya lagi untuk membanting pintunya tertutup. Lalu aku minta maaf padanya.

 

“aku minta maaf, ayah. Aku tidak akan membuat masalah lagi.”

 

Hari berikutnya, kursi disebelah ku kosong. Guruku bilang dia pindah sekolah lain.





Ikuti kami di Twitter dan Instagram agar lebih mendalami note untuk BTS


고맙습니다,, 보라해요💜💜💜😍

ini akun instagram teori 

👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻

https://instagram.com/bighiteories?igshid=1ds96jwns4nlu


Ini akun twt teori

👇🏻👇🏻👇🏻

Check out 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒕𝒂𝒏 𝑼𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆🌙 (@BigHiTheories)

https://twitter.com/BigHiTheories?s=09



Tidak ada komentar:

Posting Komentar